BI: Perlambatan Ekonomi Global Belum Selesai

Perry menyebut saat ini kondisi di China juga sangat menentukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia memproyeksikan perlambatan ekonomi global masih akan berlanjut. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, BI juga sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global karena masih harus menghadapi sejumlah tantangan berat dan ketidakpastian.  

“Kami baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global, prediksi kami tahun ini dari 2,6 persen menjadi 2,3 persen,” kata Perry dalam Annual Investment Forum 2023, Kamis (26/1/2023).

Selain itu, Perry menyebut saat ini kondisi di China juga sangat menentukan. Menurutnya, China masih menjadi salah satu pendorong perekonomian dunia.

Perry menuturkan, meskipun saat ini China sudah melakukan pelonggaran namun dari sisi ekonomi belum bisa bangkit. Selain itu, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Eropa juga menurutnya menjadi negara yang memiliki peluang terbanyak mengalami resesi.

Meskipun begitu, Perry menegaskan BI masih optimistis pertumbuhan ekonomi global pada 2024 akan membaik. “Tapi kami memiliki harapan tertentu pada akhir 2024, kebangkitan (pertumbuhan ekonomi global) kembali menjadi 2,8 persen,” tutur Perry.

Perry menilai, kondisi ekonomi dunia sangat penting, termasuk bagi Indonesia. Terlebih, menurutnya Indonesia sudah menghadapi dampak situasi global selama dua tahun terakhir.

Tak hanya soal pertumbuhan ekonomi, Perry juga memprediksi inflasi pada 2023 masih cukup tinggi. Menurutnya, inflasi global pada 2023 akan menyentuh hingga 5,2 persen.

“Meskipun tahun lalu inflasi 9,2 persen dan prediksi tahun ini turun menjadi 5,2 persen, masih tetap tinggi,” kata Perry.

Perry menambahkan, pasar keuangan juga akan dihadapkan kepada tingginya ketidakpastian ekonomi global. Perry memprediksi suku bunga acuan AS masih akan terus meningkat hingga level 5,5 persen pada semester I 2023.