Indonesia akan Jadi Negara Pertama yang Mengajukan Proposal Penggunaan Dana Pandemi

Dana pandemi yang sudah terkumpul sebesar 1,4 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — World Bank mencatat saat ini dana pandemi atau pandemic fund terkumpul sebesar 1,4 miliar dolar AS atau setara Rp 21,957 triliun (kurs Rp 15.684 per dolar AS). Adapun jumlah itu akan terus bertambang seiring meningkatnya kontribusi dari negara-negara G20.


Country Director World Bank for Indonesia and Timor Leste, Satu Kahkonen mengatakan Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengajukan proposal penggunaan dana tersebut. “Negara-negara yang membutuhkan pandemic fund dapat mengajukan kepada G20. Saya rasa Indonesia akan jadi negara pertama yang akan mengajukan proposal ini,” ujarnya, Ahad (20/11/2022).


Selama pandemi Covid-19, Kahkonen menyebut kondisi perekonomian global mengalami penurunan. Hal terpenting, bagaimana bertahan dan bertumbuh masa sulit tersebut.


“Dan Indonesia, berhasil menggenjot pertumbuhan di tengah ancaman krisis ekonomi global yang dihadapi negara-negara di dunia,” ucapnya.


Sementara itu Senior Resident Representative for Indonesia of IMF, James P Walsh menambahkan Indonesia telah menjadi sebuah bright spot global.”Yang ingin saya katakan untuk Indonesia adalah Indonesia telah menjadi bright spot (menjadi titik cahaya) global,” ucapnya.


Menurutnya saat ini inflasi di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara di dunia. James juga mengapresiasi sedikitnya masalah sosial yang menyertai, seperti terjadi di beberapa negara dunia.


“Indonesia memiliki pertumbuhan domestik yang relatif kuat. Perekonomian sini naik pada tingkat yang tampaknya berkelanjutan dan cukup kokoh dan karena itu, kami cukup optimistis,” ucapnya.


Meski demikian, dia mengingatkan agar Indonesia tetap harus waspada. Hal itu karena prospek ekonomi global pada tahun depan sangatlah menantang.


James menyampaikan, setidaknya ada tiga hal utama yang bakal menjadi tantangan ekonomi global, yakni inflasi yang tinggi, kondisi keuangan yang sulit, serta ketidakpastian geopolitik. Adapun invasi Rusia ke Ukraina yang mendorong kenaikan harga pangan dan bahan bakar di seluruh dunia, juga telah menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan.