Alasan Citroen AMI Buggy masih belum dipasarkan di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Advisory Board Indomobil Group Tan Kim Piauw mengatakan mobil listrik Citroen AMI Buggy masih belum dipasarkan di Indonesia pada waktu dekat. Salah satu alasannya adalah keterbatasan pasokan (supply) dan semikonduktor (chip).

“Keterbatasan produksi dan supply perusahaan otomotif ini bisa dilihat dari banyak sisi. Bisa karena permintaan yang lebih tinggi daripada supply atau produksi. Tapi sekarang di beberapa produk adalah masalah chip dan kapasitas pabrik,” kata Tan dalam temu media di Jakarta, Kamis.

“Jadi, dari Citroen sendiri, bukan hanya di Indonesia tapi di dunia juga banyak faktor yang mempengaruhi supply ke banyak negara,” ujarnya menambahkan.

Baca juga: Citroen kembali ke Indonesia, mobil siap dikenalkan pada 2023

Meskipun ia menilai tren dan minat akan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kian meningkat di berbagai belahan negara, kendaraan energi hijau tersebut juga membutuhkan komponen yang vital. Salah satunya adalah semikonduktor yang tengah mengalami krisis beberapa waktu belakangan.

Namun, Tan mengatakan pihaknya berusaha menghadirkan kendaraan listrik yang cocok bagi pasar Indonesia pada waktu mendatang, menyusul peluncuran sejumlah mobil Citroen pada Desember.

“Tentu kami akan memasarkan EV di Indonesia, nanti akan diperkenalkan dulu. Mudah-mudahan, karena produksi Citroen ini harapannya bisa terus ditingkatkan,” ujar Tan.

Lebih lanjut, Tan mengatakan mobil AMI Buggy adalah salah satu yang susah didapatkan karena hanya diluncurkan terbatas. Ia mengungkapkan, mobil listrik kompak yang dihadirkan di Indonesia untuk dicoba awak media di Jakarta pada Kamis (17/11) adalah satu dari 50 unit di dunia.

Di sisi lain, Tan optimistis Citroen mampu bersaing di pasar otomotif Indonesia, mengingat kapasitas kebutuhan kendaraan di Tanah Air dinilai besar, dan adanya pertumbuhan di sektor otomotif yang cenderung stabil.

“Pasar otomotif terus tumbuh. Dalam satu tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang bagus, dimana lebih dari 20 persen per September. Harapannya kami bisa punya room, walaupun katanya tahun depan adalah tahun krisis. Semoga tidak seperti yang dikhawatirkan,” kata dia.

“Kepercayaan diri kami akan market otomotif Indonesia masih besar dan potensi pertumbuhannya luar biasa. Ini juga dilihat oleh Stellantis, bahwa Indonesia potensinya besar dan kita bisa lihat kalau banyak produsen yang masuk ke Indonesia, karena didukung dengan banyak faktor seperti jumlah populasi, GDP, dan sumber alam yang mendukung untuk EV,” imbuhnya.

Baca juga: Renault 4 akan lahir kembali dalam wujud “crossover”

Baca juga: Naysila Mirdad dalami “Inang” hingga Elon Musk lanjutkan beli Twitter

Baca juga: Alasan Indomobil gandeng Citroen kembali ke Indonesia

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2022