Italia Bersiap Dipimpin Pemerintahan Sayap Kanan Pertama Sejak Perang Dunia II

“Akhirnya ada perubahan, karena sudah berapa tahun berlalu sejak ada perubahan. Akhirnya kita memiliki seorang pemimpin baru. Harapannya, tindakan sosok ini koheren dengan ucapannya. Kita tunggu!,” kata Valerio Reali, seorang mahasiswa.

Sementara seorang ibu rumah tangga, Federica Piccirillo mengatakan, “Saya tidak memilih dia (Meloni.red) karena saya bukan pendukung kelompok kanan. Tetapi bukan berarti negara ini – sekali lagi – ingin menunjukkan pemberontakan. Saya kira kampanye politik Letta (pemimpin Partai Demokrat.red) benar-benar salah, ia bukan tokoh yang tepat. Saya menyesal ada sebagian warga Italia yang memilihnya, karena jelas ia akan kalah.”

Inilah sebagian reaksi warga Roma hari Senin (26/9) melihat hasil pemilu nasional yang tampaknya akan menghasilkan pemerintahan sayap kanan pertama di Italia sejak Perang Dunia Kedua.

Valerio Reali yang masih mahasiswa dan Federica Piccirillo yang ibu rumah tangga sama-sama terkejut dengan hasil pemilu itu. Terlebih dengan kemungkinan Giorgia Meloni menjadi perdana menteri perempuan pertama di Italia.

Italia yang kini condong ke sayap kanan menggeser realitas geopolitik Eropa, menempatkan partai yang skeptis pada Euro ke posisi untuk memimpin anggota pendiri Uni Eropa dan sekaligus negara dengan tingkat perekonomian terbesar ketiga di blok itu.

Kemenangan Meloni Dipuji Para Pemimpin Sayap Kanan di Eropa

Para pemimpin sayap kanan di seluruh Eropa dengan cepat memuji kemenangan Giorgia Meloni dan kebangkitan partainya yang melesat, seakan mengirim pesan bersejarah ke Brussel.

Hasil penghitungan suara yang mendekati akhir menunjukkan koalisi kanan-tengah menjaring sekitar 44% suara parlemen, dengan Partai Brother’s of Italy pimpinan Meloni merebut sekitar 26% suara.

Mitra koalisinya memperoleh sisanya, di mana liga anti-migran pimpinan Matteo Salvini meraih hampir 9% dan Forza Italia yang lebih moderat pimpinan mantan perdana menteri Silvio Berlusconi meraih sekitar 8%.

Partai Demokrat yang berhaluan kiri-tengah dan sekutunya meraih sekitar 26%, 5-Star Movement – yang telah menjadi peraih suara terbesar dalam pemilu parlemen tahun 2018 – meraih sekitar 15%.

Jumlah pemilih sendiri merupakan yang terendah dalam sejarah Italia yaitu 64%.

Lembaga-lembaga survei menunjukkan para pemilih tetap tinggal di rumah sebagai bagian dari protes dan sekaligus kekecewaan atas kesepakatan di belakang layar yang telah menciptakan tiga pemerintahan sejak pemilu sebelumnya.

Agenda Utama Meloni: Turunkan Biaya Listrik & Gas

Meloni, yang partainya memiliki asal-usul Gerakan Sosial neo-fasis Italia, bernada moderat dan menyerukan persatuan dalam pidato kemenangannya Senin pagi, dengan mengatakan warga Italia akhirnya dapat jelas menentukan siapa yang mereka kehendaki sebagai pemimpin.

Menurunkan tagihan listrik dan gas, serta mengubah konstitusi Italia, merupakan dua agenda utama Partai “Brothers of Italy” saat mereka memikirkan pembentukan pemerintahan baru. Beberapa jam setelah Meloni berbicara dengan koalisi kanan-tengah menuju kemenangan dalam pemilu, politisi dari partai-partai itu berbicara pada media tentang rencana mereka ke depan.

Senator Luca Ciriani mengatakan prioritas utama mereka adalah mengkaji keuangan negara dan melihat apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan isu tagihan listrik dan gas yang tinggi.

“Jelas bagi setiap orang bahwa soal tagihan listrik dan gas ini darurat dan kita harus melihat kondisi keuangan publik, lalu mulai memikirkan apa yang akan kita lakukan. Prioritas kita sekarang adalah menyelesaikan tagihan listrik dan gas, setelah itu kita kaji semua hal lain berdasarkan sumber daya yang ada,” kata Luca.

Sementara, salah seorang penasehat terdekat Meloni, anggota parlemen Fransesco Lollobrigida membela hubungan dekat partainya dengan Hongaria, dan mengatakan apapun hubungan dengan Hongaria atau Prancis, Brothers of Italy akan selalu melihat masalah dan hubungan dengan “lensa kepentingan nasional.” Ia juga menjawab pertanyaan tentang urgensi reformasi konstitusi, seiring harapan Brothers of Italy untuk mengubah konstitusi Italia, yang ditulis pada tahun 1947 ketika negara itu keluar dari Perang Dunia Kedua.

Pembentukan Pemerintahan Diprediksi akan Alot

Meskipun kelompok sayap kanan-tengah jelas menjadi pemenangnya, pembentukan pemerintahan masih membutuhkan waktu beberapa minggu dan akan melibatkan konsultasi di antara para pemimpin partai dan Presiden Sergio Mattarela. Sementara itu mantan perdana menteri Mario Draghi masih akan menjadi penjabat.

Pemerintah yang dipimpin Meloni diharapkan akan melanjutkan kebijakan luar negeri Italia saat ini, termasuk sikap pro-NATO dan dukungan kuat untuk memasok Ukraina dengan senjata agar dapat bertahan melawan invasi Rusia; meskipun sekutu koalisinya mengisyaratkan kebijakan yang sedikit berbeda.

Berlusconi dan Salvini – mantan perdana menteri dan mantan wakil perdana menteri – memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Meskipun keduanya menjauhkan diri dari invasi Rusia ke Ukraina, Salvini telah memperingatkan bahwa sanksi terhadap Rusia akan merugikan industri Italia. Berlusconi bahkan telah memaafkan invasi Putin, sebagaimana yang dilakukan oleh separatis pro-Rusia di Donbas.

Ilmuwan politik dan penulis Sofia Ventura mengatakan ia tidak yakin hubungan dalam koalisi Meloni akan “sederhana.”

“Saya sangat yakin hubungan internal koalisi sayap-kanan tidak akan sederhana, tetapi kita harus membuat premis dengan menanyakan pada diri kita sendiri – berapa lama Salvini akan bertahan. Mungkin ini seperti pembentukan pemerintah dalam jangka pendek, ia mungkin akan memainkan peran eksekutif, meskipun lebih marjinal dari yang diinginkannya. Saya yakin baik Meloni, maupun Mattarella, tidak akan memberi Salvini salah satu posisi, misalnya Kementerian Dalam Negeri. Namun saya lebih percaya pada hasil, Partai Liga pimpinan Salvini meraih suara di bawah 10% yang tentunya sedikit di bawah ambang batas, yang mempertanyakan kepemimpinan Salvini sendiri,” tukasnya. [em/jm]