India Kembangkan Vaksin Kanker Serviks dengan Harga Terjangkau

Untuk pertama kalinya di India, sebuah vaksin dalam negeri yang memberikan perlindungan terhadap kanker serviks – jenis kanker paling umum kedua yang diderita perempuan di negara itu – akan dapat diakses oleh sebagian besar penduduk, termasuk yang termiskin, menurut ahli kesehatan terkemuka di sana.

Vaksin bernama Cervavac itu diproduksi The Serum Institute of India (SII), produsen vaksin terbesar di dunia. Vaksin itu diperkirakan dapat mulai diberikan pada Desember mendatang, kata pemimpin eksekutif SII Adar Poonawalla dalam sebuah pernyataan hari Selasa (20/9).

“Cervavac akan membuat India mandiri dalam mengendalikan angka kematian perempuan akibat kanker serviks. Pemerintah India akan memasukkannya ke dalam program [vaksinasi] nasional dalam beberapa bulan ke depan,” kata Poonawalla.

Vaksin itu dapat melindungi seseorang dari Human Papilloma Virus, penyebab utama kanker serviks dan penyebab potensial kanker lainnya. SSI mengatakan vaksin itu dapat disuntikkan kepada laki-laki dan perempuan dengan rentang harga sekitar 200-400 rupee (sekitar Rp37 ribu – Rp75 ribu).

Dr. Smita Joshi, pemimpin penelitian vaksin HPV yang dikembangkan SSI, mengatakan bahwa “vaksin itu terutama akan bermanfaat bagi anak perempuan usia 9 hingga 15 tahun atau perempuan yang belum aktif secara seksual.

“Jika kita memvaksinasi remaja putri sekarang, dampaknya dalam mengurangi beban kanker di negara ini akan terlihat dalam tiga hingga empat dekade ke depan,” ujarnya.

Menurut Joshi, efektivitas vaksin itu lebih rendah pada perempuan dewasa, yang perlu melakukan pemeriksaan kanker serviks terlebih tes HPV – dan diikuti dengan manajemen yang tepat bagi mereka yang dites positif mengidap HPV menular seksual.

Dr. Mayoukh Kumar Chakraborty, lektor ginekologi dan kebidanan di KPC Medical College & Hospital di Kolkata, mengatakan bahwa meskipun tiga vaksin HPV yang diproduksi asing dan berfungsi dengan baik sudah tersedia di India, harga termurah dari ketiganya masih di kisaran $35 (sekitar Rp525 ribu) per dosis.

Menurut Kementerian Sains dan Teknologi India, kanker serviks membunuh sekitar 75.000 perempuan India setiap tahun. [rd/jm]