Dibayangi Lonjakan Batu Bara, Kinerja SMGR Dinilai Masih Prospektif

Kinerja SMGR prospektif mengingat memegang pangsa produksi kapasitas terbesar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dinilai masih mempunyai prospek yang positif ke depannya meski kenaikan harga batu bara sempat membayangi kinerja Perseroan. Sebagai pemain terbesar di sektor semen dalam negeri, SMGR disebut mempunyai beberapa keunggulan.


“Profil portofolio yang beragam akan mengurangi risiko penurunan penjualan di saat permintaan melambat di area tertentu,” kata Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni melihat dalam risetnya dikutip pada Selasa (20/9). 


Keunggulan lainnya, SMGR memegang pangsa produksi kapasitas terbesar dengan jaringan distribusi yang tersebar luas. Perseroan juga melayani berbagai pelanggan mulai dari merek premium hingga merek dengan persaingan ketat yang tersebar di seluruh Indonesia. 


Selain itu, status sebagai BUMN juga memberikan keunggulan kompetitif bagi SMGR. Perseroan dapat menikmati peluang yang lebih baik dalam memproleh proyek infrastruktur. Sekitar 75 persen dari volume penjualan SMGR berasal dari proyek strategis nasional. 


Terkait dampak kenaikan harga batu bara, SMGR mengantisipasinya dengan memproleh harga  berhasil memperoleh domestic market obligation (DMO). SMGR melaporkan telah mengamankan konsumsi batubara 100 persen dengan harga DMO sejak kuartal II 2022 hingga akhir tahun ini. 


Peningkatan biaya konsumsi batu bara pada semester pertama 2022 pun hanya mencapai 50 persen, lebih rendah dibandingkan peningkatan 84 persen di pasaran. Ini menempatkan SMGR pada posisi yang lebih baik dibandingkan dengan rekan-rekannya yang tidak mampu mendapatkan batu bara dengan harga DMO.


Kinerja SMGR juga akan didukung oleh langkah akuisisi atas PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR). Emma meyakini akuisisi ini bisa memperkuat pijakan SMGR khususnya di wilayah Sumatera Selatan. 


Emma memproyeksikan laba bersih SMGR di tahun 2022 masih akan terkoreksi sebesar 21,6 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp 1,6 triliun. Meski demikian, sepanjang 2023 laba Perseroan diperkirakan akan tumbuh signifikan sebesar 47,8 persen yoy menjadi Rp 2,3 triliun. 


Emma merekomendasikan beli saham SMGR dengan target harga Rp 10.700. Menurut Emma, saham SMGR saat ini diperdagangkan dengan valuasi yang cukup murah. Pada perdagangan Selasa (20/9), saham SMGR ditutup berada di level Rp 7.200.