Ekonom: Kontribusi Manufaktur ke Pertumbuhan Ekonomi Makin Menipis

Penurunan pertumbuhan manufaktur karena makin mahalnya bahan baku.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,44 persen pada kuartal II 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, industri manufaktur menjadi sektor lapangan usaha yang memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.


BPS menyebutkan, lapangan usaha industri manufaktur selama kuartal II tercatat tumbuh 4,01 persen year on year (yoy). Meski begitu, secara angka kontribusi manufaktur semakin menipis dalam pertumbuhan ekonomi.


Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, menipisnya kontribusi manufaktur ke pertumbuhan ekonomi karena bahan baku yang semakin mahal. Lalu, adanya delay pengiriman barang ke negara negara yang alami perang terutama ke Eropa seperti Rusia. 


“Hingga permintaan masyarakat yang belum pulih sepenuhnya membuat pelaku industi tertekan,” ujarnya kepada Republika.co.id, Jumat (5/8/2022). 


Ia menambahkan, inflasi di sisi produsen sebesar 11 persen tapi inflasi di konsumen hanya 4,9 persen yoy. Hal itu berarti, pelaku industri menahan selisih harga produksi dengan harga jual. 


“Kalau situasi ini berlanjut karena produsen khawatir harga barang naik, omset turun maka pengembangan industri pengolahan bisa terganggu,” tuturnya.


Bhima menambahkan, investasi ke sektor manufaktur yang kurang juga mulai memengaruhi. Hal itu karena, investasi langsung kini lebih bergeser ke pengolahan komoditas misalnya smelter nikel dibanding industri lain.