Di Mozambik, Perempuan Siap Hadapi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Di desa Manhene, Mozambik, di dekat perbatasan dengan Zimbabwe, kaum perempuan mengorganisir diri menjadi semacam polisi komunitas untuk melindungi diri dari kekerasan yang sering mereka alami. Brigade perempuan ini diluncurkan oleh perkumpulan Lemusica, yang berusaha mengubah mentalitas di kawasan pedesaan, di mana bungkam merupakan aturan yang berlaku saat menghadapi kekerasan.

Dalam sebuah adegan pertengkaran di tengah keluarga yang diperagakan oleh warga, seorang menjambak istrinya. Ia baru berhenti berbuat demikian setelah dua perempuan polisi sukarela turun tangan. Ia segera dinetralisir, sementara para anggota polisi komunitas menunggu pihak berwajib, yang bisa jadi datang satu jam kemudian.

Intervensi semacam ini sekarang telah menjadi kenyataan, berkat prakarsa yang diluncurkan perkumpulan Lemusica pada tahun 2011. Unit yang seluruh anggotanya perempuan ini dilatih khusus untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga.

Anchia Camal Mulima, koordinator center “Lemusica” (Bangunlah wanita dan ikuti jalanmu), foto bersama warga perempuan dari Mahnene setelah sesi pencegahan dan kesadaran untuk kekerasan terhadap perempuan, di depan fasilitas penampungan dan rumah bantuan masyarakat di Provinsi Manica, Mozambik pada 18 Mei 2022. (Foto: Alfredo Zuniga / AFP)

Anchia Camal Mulima, koordinator center “Lemusica” (Bangunlah wanita dan ikuti jalanmu), foto bersama warga perempuan dari Mahnene setelah sesi pencegahan dan kesadaran untuk kekerasan terhadap perempuan, di depan fasilitas penampungan dan rumah bantuan masyarakat di Provinsi Manica, Mozambik pada 18 Mei 2022. (Foto: Alfredo Zuniga / AFP)

Achia Anaiva, direktur Lemusica, mengatakan, “Masalah satu orang perempuan adalah masalah semua perempuan. Jadi kami berjuang bagi perempuan untuk menghindari penghinaan, untuk mengetahui hak-hak mereka, memperjuangkan hak-hak tersebut dan memiliki kesetaraan gender.”

Di Mozambik, hampir setengah perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun, menurut PBB.

Hampir satu dari limaperempuan adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Ini melanggar hukum, tetapi di desa-desa terpencil seperti di Manhene, para pelaku kerap bertindak tanpa dikenai hukuman.

Elisa Eduardo, koordinator perempuan Manhene, mengatakan, “Sebelum kami mulai bekerja sama dengan Lemusica di sini, kaum perempuan tidak melihat kekerasan sebagai penindasan. Mereka menganggap itu sebagai bagian dari budaya, di mana ketika seseorang menikah, kekerasan yang dilakukan terhadap mereka dianggap normal.”

Simulasi dalam sesi pelatihan tentang pencegahan dan kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Manica, Mozambik bersama LSM "Lemusica", 18 Mei 2022. (Alfredo Zuniga / AFP)

Simulasi dalam sesi pelatihan tentang pencegahan dan kesadaran terhadap kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Manica, Mozambik bersama LSM “Lemusica”, 18 Mei 2022. (Alfredo Zuniga / AFP)

Unit perempuan ini jarang sekali menggunakan kekuatan. Unit ini hanya bertujuan untuk menyelesaikan sebagian besar konflik melalui pembicaraan.

Elisa Eduardo kembali mengatakan, “Setelah 12 tahun berkampanye meningkatkan kesadaran di kalangan keluarga, kekerasan telah berkurang. Pada tahun-tahun awal, banyak kasus kekerasan. Tetapi sekarang kami hanya mendapati sekitar satu kasus per bulan.”

Unit ini lebih memprioritaskan pendidikan kaum perempuan dan menyimak mereka, daripada menangkap pelaku kekerasan. Para penyintas penganiayaan dapat datang ke kantor pusat Lemusica untuk mendapatkan dukungan. Di komunitas dengan budaya membungkam, tempat seperti itu dapat menjadi penyelamat nyawa. [uh/ka]